Rabu, 18 April 2012

Diktat Fikih Kelas 7 semester 1


TAHARAH
  1. Pengertian Taharah beserta dalil naqlinya
Taharah secara bahasa artinya bersuci, sedangkan secara istilah adalah suci dari hadats dan najis. Taharah menjadi sesuatu yang penting dalam Islam. Ada beberapa alasan yang dijadikan alas an untuk itu, antara lain :

  1. Firman Allah, Q.S al-Baqarah : 222
¨bÎ) ©!$# =Ïtä tûüÎ/º§q­G9$# =Ïtäur šúïÌÎdgsÜtFßJø9$#
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

  1. Hadis Nabi Muhammad SAW :
“Islam itu bersih, maka jagalah kebersihan dirimu, sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih.” (H.R Baihaqi)

B. Pengertian Mandi Besar/ Mandi Wajib
Mandi besar/ wajib adalah meratakan air ke seluruh tubuh dengan niat menghilangkan hadats besar.

C. Sebab-sebab Mandi Besar
Firman Allah SWT sebagai berikut :
4                      bÎ)ur öNçGZä. $Y6ãZã_ (#rã£g©Û$$sù 4
“ …….Dan jika kamu junub hendaklah bersuci (mandi) …. “
            Junub/ bersetubuh adalah salah satu hadats besar. Jenis hadats yang lainnya adalah :
  1. Keluar sperma
  2. Selesai haid bagi wanita
  3. Selesai melahirkan
  4. Selesai nifas, yakni darah yang keluar sesudah melahirkan
  5. Mati

D. Rukun Mandi
Rukun mandi ada dua, yaitu :
1.      Niat, yaitu menyengaja menghilangkan hadats besar
2.      Meratakan air ke seluruh tubuh, kulit dan rambut

E. Sunah-sunah Mandi Besar
1.      Membaca basmallah pada permulaan mandi
2.      Berwudhu sebelum mandi
3.      Menggosok-gosok badan hingga bersih
4.      Mendahulukan bagian badan yang kanan
5.      Berturut-turur (tertib)






 
BAB II  PEMBAHASAN
2.1.SHALAT FARDHU
2.1.1. Pengertian Shalat Fardhu
Menurut bahasa shalat artinya adalah berdoa, sedangkan menurut istilah shalat adalah suatu perbuatan serta perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sesuai dengan persyaratkan yang ada.
Menurut istilah adalah shalat yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim di seluruh dunia, jika ditinggalkan maka hukumnya adalah dosa. Perintah shalat wajib, diterima Nabi Muhammad saw ketika mi’raj.
2.1.2. Syarat-syarat Wajib Menjalankan Shalat Fardhu
Shalat tidak wajib dikerjakan kecuali oleh mereka yang memenuhi syarat-syarat berikut: (abd Qadir, 2007: 169)
  1. Islam. Maka, tidak diwajibkan atas orang-orang kafir sekalipun ia disiksa dengan siksaan yang berat karena tidak mengerjakannya.
  2. Berakal sehat. Tidak diwajibkan atas orang gila dan pingsan. Jika gila atau pingsannya itu berlangsung terus selama dua waktu shalat yang bias dijama’. Ulama’ Syafi’iyah berpendapat bahwa, jika seseorang gila atau pingsan selama satu waktu shalat penuh, gugurlah kewajiban shalatnya. Sedangkan menurut hanafiah, kewajiban shalat tidak gugur dari seseorang kecuali jika ia gila atau pingsan selama enam waktu, maka ketika itu gugur pula kewajibannya untuk shalat.
  3. Balig atau dewasa. Maka shalat tidak diwajibkan bagi anak kecil yang belum balig. Tetapi bagi walinya hendaklah menyuruhnya mengerjakan salat bila anak itu telah menginjak umur tujuh tahun, dan boleh memukulnya jika tidak mengerjakannya ketika berusia sepuluh tahun. Hal ini agar setelah balig nanti ia terbiasa atau sudah terlatih mengerjakannya.
  4. Sampai dakwah atau seruan dari Nabi, sesuai firman Allah dalam surat Al Isra ayat 15
  5. Suci dari haid dan nifas. Hal ini karena wanita yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan melakukan salat, baik secara ada’(dikerjakan pada waktunya) maupun qada’. Berbeda dengan puasa, mereka wajib mengqada’nya.
  6. Sehat jasmani dan rohani. Karena itu bagi orang yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keadaan buta tuli tidak diwajibkan shalat.
2.1.3. Macam-macam Shalat Fardhu
Shalat fardhu sendiri  terbagi menjadi 2, yakni:
  1. Shalat Fardu ‘Ain,  shalat wajib yang dilakukan setiap hari, dalam 5 waktu sebanyak 17 rakaat, ke lima shalat 5 waktu tersebut adalah; Shalat Shubuh, Shalat Dzuhur, Shalat ‘Ashar, Shalat Maghrib, Shalat Isya’ dan juga Shalat Jum’at (hanya diwajibkan untuk kaum laki-laki, dilakukan setiap hari jumat, pada waktu adzan dzuhur).
  2. Fardu Kifayah, yaitu shalat wajib yang apabila sudah dikerjakan oleh sebagian umat Islam, maka umat islam yang lainnya terbebas dari kewajiban tersebut. Di antaranya adalah Shalat Jenazah dan Shalat Ghaib.
2.1.4. Waktu Shalat
Salat fardu memiliki waktu-waktu tertentu, saat kapan salat itu harus dikerjakan, berdasarka firman Allah:
#sŒÎ*sù ÞOçFøŠŸÒs% no4qn=¢Á9$# (#rãà2øŒ$$sù ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4’n?tãur öNà6Î/qãZã_ 4 #sŒÎ*sù öNçGYtRù’yJôÛ$# (#qßJŠÏ%r’sù no4qn=¢Á9$# 4 ¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. ’n?tã šúüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ
Artinya: Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
Maksudnya, suatu kewajiban yang sangat penting dan pasti seperti Kitab Suci. Qur’an telah mengisyaratkan waktu-waktu salat ini, sesuai dengan firman-Nya:
ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# Ç’nûtsÛ Í‘$pk¨]9$# $Zÿs9ã—ur z`ÏiB È@øŠ©9$# 4 ¨bÎ) ÏM»uZ|¡ptø:$# tû÷ùÏdõ‹ãƒ ÏN$t«ÍhŠ¡¡9$# 4 y7Ï9ºsŒ 3“tø.ÏŒ šúï̍Ï.º©%#Ï9 ÇÊÊÍÈ
Artinya: Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.(al Hud : 114.)   dan (al-Isra’, 78 dn Taha, 130)
Inilah waktu-waktu salat yang diisyaratkan Qur’an. Sedangkan mengenai batas ketentuannya ditetapkan oleh sunnah. Untuk ini dapat dikutip pada sebuah hadist oleh Bukhari yang dinilai sebaai hadis yang paling sahih. Hadis tersebut bersumber dari Jabir, yang artinya: (abd Qadir, 2007: 169)
“Jibril dating kepada Nabi lalu berkata: ‘Bangun dan salatlah!’ Maka Nabi mengerjakan salat zuhur disaat matahari tergelincir. Kemudian ia dating lagi diwaktu asar, katanya: ‘bangun dan salatlah!’ beliaupun mengerjakan salat asar ketika baying-bayang sesuatu sama panjang dengan bendanya. Lalu ia dating lagi diwaktu magrib dan katanya: ‘bangun dan salatlah!’ Nabipun mengerjakan salat magrib saat matahari terbenam. Kemudian ia dating pula pada waktu isya dan berkata: ‘bangun dan salatlah!’ maka nabi segera salat isya ketika mega merah telah lenyap. Akhirnya ia dating lagi di waktu fajar ketika fajar telah bercahaya…” (Hadis Ahmad, Nasa’I dan Tirmizi)
Waktu-waktu yang dijelaskan dalam hadist di aas adalah waktu-waktu jawaz, yakni waktu salat dalam situasi normal. Sedang dalam keadaan darurat atau ada halngan, maka waktu-waktu tersebut menjadi lebih panjang dari itu. Setiap waktu meluas panjang sampai dengan waktu berikutnya, kecuali suuh yang berakhir dengan terbitnya matahari. Hal ini berdasarkan hadis Abdullah bi ‘Amr bi ‘As, Bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya: (abd Qadir, 2007: 169)
“Waktu zuhur ialah bila matahari tergelincir hingga bayang-bayang seseorang sama panjang dengan badannya selama waktu asar belum tiba.; waktu asar ialah selama belum menguning sinar matahari; waktu salat magrib ialah selama mega merah belum lenyap; dan waktu salat isya ialah sampaitengah malam kedua; sedangkan waktu salat subuh mulai sejak terbit fajar sampai matahari terbit. Jika matahari telah terbit maka hentikanlah salat, karena ia terbit di antara dua tanduk setan.” (Hadis Muslim)
2.1.5. Salat Menurut Empat Madzhab
  1. A. Hukum Melafalkan Niat Untuk Sholat
a. Mazhab Hanafi :
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa niat sholat adalah bermaksud untuk melaksanakan sholat karena Allah dan letaknya dalam hati, namun tidak disyaratkan melafadhkannya dengan lisan. Adapun melafadhkan niat dengan lisan sunah hukumnya, sebagai pembantu kesempurnaan niat dalam hati. Dan menentukan jenis sholat dalam niat adalah lebih afdlal. (al-Badai’ I/127. Ad-Durru al-Muhtar I/406. Fathu al-Qadir I/185 dan al-lubabI/66)
b. Mazhab Maliki :
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud untuk melaksanakan sesuatu dan letaknya dalam hati. Niat dalam sholat adalah syarat sahnya sholat, dan sebaiknya tidak melafadzkan niat, agar hilang keragu-raguannya. Niat sholat wajib bersama Takbiratul Ihram, dan wajib menentukan jenis sholat yang dilakukan (al-Syarhu al-Shaghir wa- Hasyiyah ash-Shawy I/303-305. al-Syarhu al-Kabir ma’ad-Dasuqy I/233 dan 520).
c. Mazhab Hambali :
Ulama Hanabilah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud untuk melakukan ibadah, yang bertujuan untuk mendekatkan dirikepada Allah. Sholat tidak sah tanpa niat, letaknya dalam hati, dan sunnah melafadzkan dengan lisan, disyaratkan pula menentukan jenis sholat serta tujuan mengerjakannya. (al-Mughny I/464-469, dan II/231. Kasy-Syaaf al-Qona’ I364-370).
d. Syafi’i :
Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud melaksanakan sesuatu yang disertai dengan perbuatan. Letaknya dalam hati. Niat sholat disunnahkan melafadzkan menjelang Takbiratul Ihram dan wajib menentukan jenis sholat yang dilakukan. (Hasyiyah al-Bajury I/149.
Mughny al-Muhtaj I/148-150. 252-253. al-Muhadzab I/70 al-Majmu’ Syarh
al-Muhadzab III/243-252).
B.  Hukum Membaca Basmalah Dalam Fatihah Sholat
a. Maliki: Tidak memakai Bismillah karena Bismillah bukan ayat dari Surat Al-Fatihah. Dari Aisyah r.a : “Sesungguhnya Rosulullah memulai sholat dengan takbir dan membaca alhamdulillahi robbil’alamin (Riwayat Muslim)
b. Hanafi: Membaca Basmalah dalam Fatihah sholat itu hukumnya wajib namun dengan suara pelan. Dalam riwayat lain bagi Ibnu Huzaimah : “Mereka membaca Bismillahirrahmaanir-raahiim”membacanya dengan pelan”. (Subulus Salam I/333).
c. Hambali Membaca Basmallah dengan pelan dan tidak sunat untuk dikeraskan.
d. Syafi’i : Wajib membaca Basmallaha. Abu Hurairoh r.a, Nabi Muhammad SAW: Sesungguhnya rosulluloh telahbersabda “Jika kalian membaca alhamdulillahi robbil’alamin, makabacalah bismillaahir rohmaanir rohiim. Sesungguhnya itu ummul Qur’an, ummul kitab, dan sab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulangulang), dan bismillaahir rohmaanir rohiim termasuk salah satu ayat surat Al-Fatihah. (Riwayat Daruqutni dari Hadits Abdul Hamid bin Za’far dari Nuh bin Abi Bilal dari Sa’id bin Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairoh r.a)
Hadits Anas r.a, sesungguhnya ia ditanya tentang bacaan rosululloh SAW dalam sholat, jawab Anas “Sesungguhnya rosululloh memanjangkan bacaannya… seterusnya beliau membaca bismillaahir rohmaanir rohiim alhamdulillahir robbil’alamiin maaliki yaumid diin…” (riwayat Bukhori)
  1. C. Hukum Membaca Surat Al-Fatihah Bagi Makmum
    1. a. Ulama Hanafiyah melarang makmum membaca fatihah secara mutlaq Dengan alasan :
      1. Nash Al-Qur’an yaitu firman Allah SWT :“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf (7) : 204)
      2. . Hadits yang diriwayatkan oleh abu Hanifah dari Abdullah bin Syaddaad dari Jabir bin Abdullah r.a, bahwa rosululloh SAW, bersabda : Man sholla kholfa imaamin fa inna qiroo’atal imaami lahu qiroo’atun.
Artinya :“Barangsiapa yang mengerjakan sholat dibelakang imam (bermakmum), maka sesungguhnya bacaan imam adalah menjadi bacaannya.”
  1. b. Syafi’iyah mewajibkan secara mutlaq.
  2. . Firman Allah SWT :“Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil (83) : 20)
  3. . Al-Hadits
    1. Sesungguhnya rosululloh SAW, bersabda :
Laa sholaata illa biqiroo’atin“
Artinya : “Tidaklah sah sholat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
  1. Rosululloh SAW, bersabda:
Laa sholaata liman lam yaqro bifaatihatil kitaab “
Artinya :“Tidak ada sholat (tidak sah), kecuali dengan bacaan Fatihah”(HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tarmidzi, An-Nasa’I, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad dari ‘Ubaadah bin Shamit).
  1. Juga ulama Syafi’iyah yang berpegang lagi dengan Hadits Abu Hurairoh, yang diangkatnya : “Barangsiapa yang sholat yang didalamnya tanpa membaca ummul kitab (fatihah), maka sholat itu kurang, tegasnya tidak sempurna.”Perawi Hadits itu berkata : “Wahai Abu Hurairoh! Sungguh kadangkadang aku sholat dibelakang imam.” Lalu Abu Hurairoh memegang lenganku dan berkata, “Wahai Farisy, bacalah fatihah untuk dirimu.”Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud.
  2. Hadits ‘Ubaadah bin Shamit, ia berkata “Rasululloh SAW. Sholatsubuh dan beliau mengeraskan bacaannya. Setelah selesai sholat, beliau bersabda “Saya melihat kalian membaca dibelakang imam?” kami menjawab, “Benar, demi Allah , wahai rosululloh.” Kemudian rosululloh SAW, bersabda : “ Laa taf’aluu illa biummil qur’ani fainnahu laa sholaata liman lam yaqro’biha “
Artinya :“Janganlah kamu semua lakukan, kecuali dengan ummul Qur’an (S.Alfatihah, karena sesungguhnya tidak ada sholat bagi orang yang tidak membacanya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Hadits-Hadits ini khusus mengenai bacaan makmum, dan semuanya tegas tentang fardu membaca fatihah. Menurut Syafi’iyah berpendapat bahwa membaca fatihah itu merupakan salah satu rukun sholat, maka ia tidak dapat gugur dari makmum sebagaimana rukun-rukun lainnya.
c. Malikiyah tidak mewajibkan dan tidak juga melarang. Hanya pada sholat sir disunatkan membacanya.
d. Ulama Hanabilah tidak mewajibkan dan tidak melarang pada saat tidak terdengar bacaan imam, maka sunat membacanya bagi makmum.
D. Qunut Subuh
Maliki berpendapat, bahwa qunut subuh itu mustahab (sesuatu perbuatan yang disukai nabi, tetapi tidak dibiasakannya). Adapun dalil bagi orang yang mengatakan, bahwa qunut subuh itu tidak ada ialah : Dari Abu Hurairoh r.a bahwasannya Nabi SAW pernah qunut disembahyang subuh, hingga katanya : “Kemudian sampai kabar kepada kami, bahwa qunut itu telah ditinggalkannya tatkala turun ayat “Laisalaka minal amri syaiun au yatuubu ‘alaihim wa yu’adzdzibahum fa innahum dhoolimuun” yang artinya “Itu bukan urusan engkau hai Muhammad apa Allah memberi taubat mereka, atau mengazab mereka sebab mereka orang yang aniaya.” (HR. Muslim).
Juga hadits : ‘An anasin rodliyallohu ‘anhu anna nabiyyu sholallahu ‘alaihi was salama qonata syahron ba’dar rukuuyad’uu ‘alaa ahyaai minal ‘arobi tsumma tarkahu .( rowahu bukhori muslim )
Dari Anas r.a, “Bahwasannya Nabi SAW pernah qunut sebulan lamanya sesudah rukuk, yang mendoakan suku-suku Arab, kemudian meninggalkannya.” ( HR. Bukhori dan muslim )
Tentang Hadits-Hadits diatas dijawab oleh Ulama Syafi’iyah. “Bahwa qunut yang ditinggalkan oleh Nabi itu, hanyalah qunut Nazilah yang sifatnya mengutuk, berdasarkan Hadits-Hadits diatas. Adapun qunut yang sifatnya tidak mengutuk tidak ada keterangan yang jelas bahwa Nabi meninggalkannya, terutama sekali qunut subuh. Hal ini dikuatkan oleh Hadits Anas r.a : An anasin rodliyallohu ‘anhu qoola: maa zaala rosuulullohi sholallohi‘alaihi wasallam yaqnutu fish shubhi hatta faaroqod dunya. (HR oleh Jama’atul huffaz ).
artinya: Dari Anas r.a berkata “Senantiasalah rosululloh SAW melakukan qunut dalam sembahyang subuh sehingga beliau meninggal dunia”. (diriwayatkan oleh Jama’atul Huffadz).
Dan ditambah pula dengan hadits dengan sanad yang shahih sebagai berikut : Dari Anas r.a “Bahwasannya Nabi SAW pernah qunut sebulan lamanya yang mendoakan suku-suku Arab, kemudian ditinggalkannya. Adapun qunut subuh senantiasa dilakukannya sampai meninggal dunia.” (riwayat HR. Hakim, Baehaqi dan Darulqutni)
2.2.SUJUD SAHWI
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : “Kapan wajibnya sujud
sahwi, sebelum atau sesudah salam ..?Sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dilakukan orang shalat untuk menambali kekurang sempurnaan shalatnya lantaran kena lupa. Sebab kelupaan ada 3 yaitu ; kelebihan, kekurangan dan keraguan.
Kelebihan (tambah) : Jika yang shalat sengaja menambahkan berdiri, duduk, ruku’ atau sujud, batallah shalatnya. Jika ia lupa akan kelebihannya dan baru sadar ketika sudah selesai, maka ia wajib sujud sahwi. Jika sadarnya itu terjadi di tengah-tengah shalat, hendaklah ia kembali ke shalatnya lalu sujud sahwi. Contohnya, jika ia lupa shalat Zuhur lima raka’at dan baru ingat sedang tasyahud, hendaklah ia sujud sahwi dan salam. Jika ingatnya itu di tengah-tengah raka’at kelima, hendaklah langsung duduk tasyahud dan salam. setelah itu sujud sahwi dan salam.
Cara di atas bersumber kepada hadits dari Abdullah bin Mas’ud yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah shalat Zhuhur lima rakaat. Lalu ditanyakan apakah ia menambahkan raka’at shalat .? Maka setelah para sahabat menjelaskan bahwa beliau shalat lima raka’at, beliau langsung bersujud dua kali setelah salam (shalat). Riwayat lain menjelaskan bahwa ketika itu beliau berdiri membelahkan kedua kakinya sambil menghadap kiblat lalu sujud dua kali dan salam.
Sujud sahwi terkadang dilakukan sebelum salam dalam dua tempat.
Pertama. Jika seseorang kekurangan dalam shalatnya, berdasarkan hadits Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud sahwi sebelum salam ketika lupa tasyahud awal. Kedua. Ketika yang shalat ragu-ragu atas dua hal dan tak mampu mengambil yang lebih diyakininya, seperti yang dijelaskan oleh hadits Abi Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang ragu-ragu dalam shalatnya, apakah tiga atau empat raka’at. Ketika itu, orang tersebut disuruh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar sujud dua kali sebelum salam. Hadits-hadits yang barusan telah dikemukakan lafaznya dalam bahasan sebelumnya.
Sedangkan sujud sahwi sesudah salam, dilakukan dalam dua hal :
Pertama. Ketika kelebihan sesuatu dalam shalat sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abdullah bin Mas’ud tentang shalat Zuhur lima raka’at yang dialami Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sujud sahwi dua kali ketika sudah diberitahu oleh para sahabat. Ketika itu beliau tidak menjelaskan bahwa sujud sahwinya dilakukan setelah salam (selesai) karena beliau tidak tahu kelebihan. Maka hal ini menunjukkan bahwa sujud sahwi karena kelebihan dalam shalat dilaksanakan setelah salam shalat, baik kelebihannya itu diketahui sebelum atau sesudah salam.
Contoh lain, jika orang lupa membaca salam padahal shalatnya belum sempurna,
lalu ia sadar dan menyempurnakannya, berarti ia telah menambahkan salam di tengah-tengah shalatnya. Karena itu, ia wajib sujud sahwi setelah salam berdasarkan hadits Abu Hurairah yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zuhur atau Ashar sebanyak dua raka’at. Maka setelah diberitahukan, beliau menyempurnakan shalatnya dan salam. Dan
setelah itu sujud sahwi dan salam.
Kedua. Jika ragu-ragu atas dua hal namun salah satunya diyakini. Hal ini telah dicontohkan dalam hadits Ibnu Mas’ud sebelumnya. Jika terjadi dua kelupaan, yang satu terjadi sebelum salam dan yang kedua sesudah salam, maka menurut ulama yang terjadi sebelum salamlah yang diperhatikan lalu sujud sahwi sebelum salam. Contohnya, umpamanya seseorang shalat Zuhur lalu berdiri menuju raka’at ketiga tanpa tasyahud awal. Kemudian pada raka’at ketiga itu ia duduk tasyahud karena dikiranya raka’at kedua dan ketika itu ia baru ingat bahwa
ia berada pada raka’at ketiga, maka hendaklah ia bediri menambah satu rakaat lagi, lalu sujud sahwi serta salam. Yakni dari contoh di atas diketahui bahwa lelaki tersebut telah tertinggal
tasyahud awal dan sujud sebelum salam. Ia-pun kelebihan duduk pada raka’at ketiga dan hendaknya sujud (sahwi) sesudah salam. Oleh sebab itu, apa yang terjadi sebelum salam diunggulkan. Wallahu ‘alam



















THAHARAH
 menurut bahasa: bersuci.
menurut istilah/syara’: membersihkan diri, tempat, dan benda-benda lain dari hadas dan najis menurut cara cara                 yang telah ditentukan oleh syari’at islam
__Menurut sifat dan pembagiannya, bersuci dibedakan menjadi 2 :
a. Bersuci Lahiriah
1) Bersuci dari najis = berusaha untuk membersihkan segala bentuk kotoran yg melekat pada badan atau tempat yang didiami.
2) Bersuci dari hadas = menghilangkan atau membersihkan hadas dengan cara berwudu atau mandi.
b. Bersuci Batiniah
Ialah membersihkan jiwa dari kotoran batin berupa dosa dan perbuatan maksiat. Cara membersihkannya ialah dengan bertobat kepada Allah Swt., tidak mengulangi perbuatan tercela, dan menggantinya dengan perbuatan-perbuatan terpuji yang dilakukan dengan ikhlastanpa riya’ ataupun rasa sombong sedikitpun.
__Macam-macam alat taharah :
a. Benda padat. Misal : Batu, Kertas, Daun, Kayu. Keadaanya harus bersih dan sedang/sudah/memang tidak digunakan/dipakai.
b. Benda cair. Benda cair yang boleh digunakan untuk bersuci hanya air. Namun, ada air yang tidak sah digunakan untuk bersuci dan yang tidak boleh digunakan untuk bersuci.
__Macam-macam air :
a. Air yang suci dan menyucikan. Halal diminum dan sah untuk bersuci. Misal : Air Hujan, air sumur (yg bersih), air laut, air salju, dan air sungai yang belum berubah bau, warna, maupun rasanya.
b. Air suci, tapi tidak menyucikan. Halal diminum tapi tidak sah untuk bersuci. Misal : Air teh, kopi, susu, sirup.
c. Air yang terkena najis/mutannajis. Air yang tidak halal diminum dan tidak sah untuk bersuci, yaitu : Air yang sudah berubah warna, bau, dan rasa karena terkena najis, dan air yang belum berubah namun sudah terkena najis dan air itu dalam jumlah sedikit/ kurang dari dua kulah.
d. Air yang makruh dipakai bersuci. Misal : Air yang terjemur/terkena sinar matahari dan berada di dalam bejana selain bejana perak dan emas.
e. Air mustakmal. Yaitu air yang sudah dipakai bersuci walaupun tidak berubah warnanya, tidak boleh digunakan karena dikhawatirkan mengandung najis/penyakit.
__Najis
a. Najis Berat/mughalladzoh. Yaitu materi yang kenajisannya sudah ditetapkan berdasar dalil yang pasti, misal:   najis yang berasal dari anjing dan babi. Cara membersihkan : Menghilangkan najis tersebut, lalu yang terkena najis dicuci 7 kali dan salah satunya menggunakan tanah/debu, sesuai sabda Rasulullah yang artinya : Cara menyucikan bejana seseorang di antara kamu apabila dijilat anjing hendaklah dibasuh tujuh kali dan salah satunya dengan debu. (H. R. Muslim dari Abu Hurairah:421)
b. Najis Sedang/Mutawassithah. Semua najis yang tidak termasuk kategori najis berat maupun ringan. Najis mutawassithah ada 2 :
1)Mutawassithah hukmiyah = najis yang diyakini adanya, tapi tidak berbau, berasa, maupun wujudnya. Misal: kencing yang sudah kering. Cara membersihkan : Cukup disiram dengan air di atasnya.
2)Mutawassithah ‘Ainiyah = najis yang masih ada bekasnya (wujud, bau, rasa), Cara membersihkan : dibasuh sampai hilang rasa, bau, dan wujudnya kecuali bila sangat susah menghilangkannya.
c. Najis Ringan/Mukhaffafah. Ialah najis yang berasal dari bayi laki-laki yang belum makan apa-apa kecuali air susu ibunya dan berumur kurang dari 2 tahun. Cara membersihkan : cukup dipercikkan air pada benda yang terkena najis, sedangkan air kencing bayi perempuan yang umurnya sama harus dibersihkan dengan air yang mengalir pada benda yang terkena najis.
__Hadas Kecil dan Tata Cara Taharahnya.
Hadas kecil = hadas yang dapat disucikan dengan cara wudhu atau tayamum. Namun, tayamum hanya boleh dilakukan saat keadaan darurat. Spt : Tidak ada air, ada air namun tidak mencukupi, sakit sehingga tidak boleh bersentuhan dengan air, atau di dalam kendaraan.
__Hadas Besar dan Tata Cara Taharahnya.
Hadas = keadaan tidak suci pada diri seorang muslim sehingga ia tidak diperbolehkan melakukan ibadah spt shalat dan tawaf.
Hadas besar = hadas yang dapat disucikan dengan cara mandi janabat/mandi wajib. Namun, bila berhalangan menggunakan air, dapat diganti dengan bertayamum/memakai debu.
Kewajiban mandi wajib bagi laki-laki maupun perempuan berlaku apabila mengalami peristiwa :
1) Berkumpulnya suami istri
2) Meninggal dunia
3) Keluar mani.
Kewajiban mandi wajib bagi perempuan saja berlaku apabila mengalami peristiwa :
1) Selesai menjalani masa haid
2) Selesai menjalani masa nifas.
Cara mandi wajib/ma­­ndi janabat :
a. Membasuh kedua tangan sampai pergelangan tangan.
b. Membasuh kemaluan dengan tangan kiri.
c. Wudhu sebagaimana akan menjalankan shalat.
d. Memasukkan jari-jari yang dibasuhkan air ke pangkal rambut.
e. Menyiram kepala sebanyak tiga kali dan diteruskan seperti biasa.
f. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.






AZAN, IKAMAH, DAN SALAT BERJAMAH
A. Ketentuan Azan dan Iqamah
Diantara keutamaan yang diberikan Allah kepada para Imam dan Muazzin adalah ketika Allah memberikan kepada mereka pahala yang sangat besar sebagaimana akan dijelaskan nantinya.
1. Pengertian Azan dan Iqomat
Azan secara etimologi berarti : memberitahukan sesuatu. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

" Dan (Inilah) suatu pemberitahuan dari Allah dan rasul-Nya". (QS. At-Taubah : 3 ).
Dan juga firman Allah ta'ala : 
"Aku Telah menyampaikan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita)". ( QS. Al-Anbiya' : 109 ), maksudnya aku telah memberitahukan kepada kalian, jadi kita pengetahuan kita sekarang sama.
Azan secara terminologi berarti : pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat dengan lafaz-lafaz tertentu sesuai dengan syari'at . Disebut demikian karena orang yang azan memberitahukan orang lain tentang waktu-waktu shalat. Dan dinamakan juga dengan An-Nida (panggilan/seruan) karena muazzinnya memanggil orang untuk melaksanakan shalat. Allah berfirman :
" Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal" . (QS. Al-Maidah : 58 )
Dan juga firman Allah ta'ala :
" Apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah". ( QS. Al-Jumu'ah : 9 ) 
Qomat ( Iqamah ) secara etimologi berarti : mendirikan sesuatu apabila dia telah menjadi lurus.
Qomat secara terminologi berarti : memberitahukan tentang pendirian/ pelaksanaan shalat fardhu dengan zikir (lafaz) tertentu yang disyari'atkan. Jadi azan adalah pemberitahuan tentang waktu shalat, sedangkan Qomat adalah pemberitahuan tentang pekerjaan (shalat), Qomat disebut juga Azan yang kedua, atau panggilan yang kedua.
Hukum azan dan qomat adalah Fardhu Kifayah bagi kaum laki-laki saja (tidak termasuk wanita) pada shalat lima waktu, shalat jum'at. Azan dan Qomat disyari'atkan berdasarkan dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah. Adapun dari Al-Qur'an adalah sebagai berikut :
" Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal" ( QS. Al-Maidah : 58 ).
Dan Firman Allah ta'ala :
" Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah". ( QS. Al-Jumu'ah : 9 ) 
  Adapun dari Sunnah Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – adalah sebagai berikut :
عن مالك بن الحويرث: ((فإذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم وليؤمكم أكبركم))
" Dari Malik bin Huwairits : Apabila telah masuk waktu shalat maka hendakalah salah seorang diantara kalian melakukan azan dan hendaklah orang yang paling tua diantara kalian menjadi imam"..
Perkataan Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – "salah seorang diantara kalian" menunjukkan bahwa azan itu hukumnya adalah fardhu kiyafah. 
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan : dalam sunnah yang mutawatir disebutkan bahwa panggilan (azan) telah ada semenjak zaman Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam -, demikian juga berdasarkan ijma' umat Islam dan amalan mereka secara turun temurun. 
Azan diwajibkan bagi kaum laki-laki ketika sedang bermukim, ketika melakukan perjalanan jauh, ketika sendiri, ketika melakukan shalat pada waktunya ataupun karena mengqadhanya, wajib bagi orang merdeka dan juga hamba sahaya. 
2. Lafal azan 
الله اكبر الله اكبر   ×2 
Allah maha besar allah maha besar     2x
اشهد ان لا اله الا لله  ×2
Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah 2x
اشهد ان محمدا رسول الله  ×2
Saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah 2x
حي على الصلاة ×2
Mari kita mendirikan salat 2x
حي على الفلاح  ×2
Mari kita meraih kemnangan 2x
الله اكبر الله اكبر  ×2
Allah maha besar Allah maha besar 2x
لا اله الا الله     ×2
Tidak ada tuhan selain Allah 2x
3. Lafal Ikamah
الله اكبر الله اكبر  
Allah maha besar allah maha besar     
اشهد ان لا اله الا الله   
Saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah
اشهد ان محمدا رسول الله
Saya bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah
حي على الصلاة 
Mari kita mendirikan salat
حي على الفلاح
Mari kita meraih kemnangan
4.  Keutamaan Azan
Allah Subhanahu Wata'ala berfirman : 
" Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri " ( QS. Fushshilat : 33 )
 Di dalam hadits juga banyak disebutkan keutamaan azan dan muazzin (orang yang azan), diantaranya :
a. Muazzin lebih panjang lehernya pada hari kiamat, berdasarkan hadits :
عن معاوية بن أبي سفيان – رضي الله عنه – قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (( المؤذنون أطول الناس أعناقًا يوم القيامة ))
" Dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan - Radiyallahu 'Anhu – dia berkata : Saya mendengar Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda: Orang-orang yang azan ( muazzin ) adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat". 
b. Azan itu mengusir syetan, berdasarkan hadits :
عن أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إذا نُودي للصلاة أدبر الشيطان له ضُراط حتى لا يسمع التأذينَ، فإذا قُضِيَ النداءُ أقبل حتى إذا ثُوِّب للصلاة أدبَرَ، حتى إذا قُضِيَ التَّثْويبَ أقبلَ حتى يَخطُرُ بين المرء ونفسه، يقول له: اذكر كذا واذكر كذا لما لم يكن يذكر من قبل، حتى يظلَّ الرجلُ لا يدري كم صلى))
" Dari Abu Hurairah - Radiyallahu 'Anhu – bahwasanya Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : Apabila azan dikumandangkan maka syetan akan lari sambil terkentut-kentut sampai dia tidak mendengarkan azan lagi, ketika azan sudah selesai maka dia kembali lagi. Ketika Qomat dikumandangkan untuk shalat dia kembali pergi, ketika qamat sudah selesai dia kembali lagi supaya bisa mengganggu orang yang shalat, dia mengatakan: ingatlah ini dan ini… yang mana hal tersebut tidak teringat olehnya sebelum shalat sehingga akhirnya seseorang tidak menyadari lagi sudah berapa raka'atkah dia shalatnya.
c. Kalaulah seandainya manusia mengetahui pahala yang didapatkan ketika panggilan (azan) yang pertama maka mereka pasti akan mengundi (untuk mendapatkannya), ini berdasarkan hadits :
عن أبي هريرة – رضي الله عنه – أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((لو يعلمُ الناسُ ما في النداء والصف الأول ثم لم يجدوا إلا أن يستهموا عليه لاستهموا، ولو يعلمون ما في التهجير لاستبقوا إليه، ولو يعلمون ما في العتمة والصبح لأتوهما ولو حبوًا))
" Dari Abu Hurairah - Radiyallahu 'Anhu – bahwasanya Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : Kalau seandainya manusia mengetahui pahala yang ada pada panggilan (azan) dan shaf pertama kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian maka pasti mereka akan mengundinya, dan kalaulah mereka mengetahui pahala yang akan didapatkan karena sudah hadir pada waktu takbiratul ihram maka mereka pasti akan berlomba-lomba (untuk menghadirinya), dan kalaulah seandainya mereka mengetahui apa yang akan didapatkan ketika shalat isya dan shalat subuh pasti mereka akan mendatanginya meskipun harus dengan merangkak".
d. Tidak satupun yang mendengarkan suara muazzin melainkan dia pasti akan menjadi saksi baginya nanti. Abu Sa'id Al-Khudri - Radiyallahu 'Anhu – berkata kepada Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Sha'sha'ah Al-Anshari :
((إني أراك تحب الغنم والبادية، فإذا كنت في غنمك أو باديتك فأذنت بالصلاة فارفع صوتك بالنداء؛ فإنه لا يسمعُ مدى صوت المؤذن جنٌّ ولا إنسٌ، ولا شيء إلا شهد له يوم القيامة، قال أبو سعيد: سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم))
" Saya perhatikan kamu sangat menyukai kambing dan kampung, kalau kamu bersama kambingmu atau sedang berada di kampungmu kemudian kamu azan untuk melaksanakan shalat maka tinggikanlah suaramu ketika azan itu, karena sesungguhnya tidaklah suara muazzin itu didengarkan oleh jin, manusia dan yang lainnya melainkan dia akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat. Kemudian Abu Sa'id berkata : Saya mendengarkan (hadits) ini dari Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam. 
e. Muazzin akan diampuni dosanya sepanjang suaranya, dan dia akan mendapatkan pahala sama dengan pahala orang-orang yang shalat bersamanya. Ini berdasarkan hadits :
عن البراء بن عازب – رضي الله عنه – أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله وملائكته يصلون على الصف المقدَّم، والمؤذنُ يغفرُ له مدَّ صوته، ويصدقه من سمعه من رطبٍ ويابسٍ وله مثلُ أجر من صلى معه))
" Dari Barra' bin 'Azib - Radiyallahu 'Anhu – bahwasanya Nabi - Shalallahu 'Alaihi Wasallam – bersabda : Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya akan bershalawat untuk orang-orang di shaf yang terdepan, dan muazzin akan diampuni dosanya sepanjang suaranya, dan dia akan dibenarkan oleh segala sesuatu yang mendengarkannya, baik benda basah maupun benda kering, dan dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang shalat bersamanya".
f. Nabi mendo'akan untuk muazzin supaya mendapatkan ampunan dari Allah, ini berdasarkan hadits :
عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((الإمام ضامنٌ والمؤذن مؤتمن، اللهم أرشد الأئمة واغفر للمؤذنين))
" Dari Abu Hurairah - Radiyallahu 'Anhu – dia berkata : Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda : Seorang Imam Penjamin (pelaksanaan shalat) dan Muazzin orang yang diberikan kepercayaan untuk menjaganya, Ya Allah tunjukilah para Imam dan berilah ampunan untuk para muazzin" .
g. Azan akan menyebabkan diampuninya dosa dan dimasukkan ke dalam sorga, berdasarkan hadits :
عن عقبة بن عامر – رضي الله عنه – قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ((يعجب ربكم من راعي غنمٍ في رأس شظيَّة بجبل يؤذن بالصلاة ويصلي، : انظروا إلى عبدي هذا يؤذنُ ويقيمُ يخاف مني، فقد غفرتُUفيقول الله  لعبدي وأدخلته الجنة))
" Dari 'Uqbah bin 'Amir - Radiyallahu 'Anhu – dia berkata : saya mendengar Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda: Tuhan kalian ( Allah ) sangat kagum dengan seorang pengembala kambing di puncak bukit ( gunung ) ketika dia azan dan shalat sendiri. Kemudian Allah berfirman : lihatlah hamba-Ku ini, dia azan dan mendirikan shalat karena takut kepada-Ku, maka sungguh aku telah mengampuni dosanya dan memasukkannya ke dalam sorga".
h. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Umar bahwasanya Rasulullah - Shalallahu 'Alaihi wa Aalihi Wasallam – bersabda :
((من أذَّن ثنتَي عشرةَ سنةً وجبتْ له الجنة، وكتب له بتأذينه في كلِّ يومٍ ستونَ حسنةً، ولكلِّ إقامةٍ ثلاثونَ حسنةً))
" Siapa saja yang melakukan azan sebanyak dua belas kali dalam setahun maka dia berhak masuk sorga, dan akan dicatatkan baginya enam puluh kebaikan setiap hari dia azan, dan untuk setiap qomat (dicatatkan ) tiga puluh kebaikan" .
B. Keutamaan Salat Berjamaah
1. Pengertian salat berjamah
Shalat berjamaah adalah salat yang dikerjakan oleh dua atau lebih orang secara bersama-sama dengan satu orang di depan sebagai imam dan yang lainnya di belakang sebagai makmum.
Shalat berjamaah minimal atau paling sedikit dilakukan oleh dua orang, namun semakin banyak orang yang ikut solat berjama'ah tersebut jadi jauh lebih baik. Shalat berjama'ah memiliki nilai 27 derajat lebih baik daripada sholat sendiri. Oleh sebab itu kita diharapkan lebih mengutamakan shalat berjamaah daripada solat sendirian saja.




Doa-doa dan Zikir-zikir Selepas Solat Fardhu Yang Sahih Dari Sunnah
Doa-doa dan Zikir-zikir Selepas Solat Fardhu Yang Sahih Dari Sunnah


Adab Berzikir Selepas Solat:

1 – Dilaksanakan (dibaca/diwiridkan) secara sendiri-sendiri (individu/bukan secara berjma’ah).

2 – Dilaksanakan (dibaca/diwiridkan) secara perlahan-lahan (direndahkan suara) dan tidak dikuatkan atau dinyaringkan semasa membacanya. Cukup sekadar diri sendiri yang mendengar dan memahaminya atau menghayatinya.

3 – Tiada contohnya (daripada sunnah) bentuk perlaksanaan zikir selepas solat dengan secara berjama’ah dan dengan dengan suara yang kuat, melainkan bagi tujuan mengajar.

4 – Zikir-zikir dan doa-doa ini dilaksanakan (diwiridkan) sebaik sahaja selepas salam (tamat solat fardhu).

Imam asy-Syafi'e rahimahullah berkata di dalam kitabnya yang terkenal, al-Umm:


وَأَخْتَارُ للامام وَالْمَأْمُومِ أَنْ يَذْكُرَا اللَّهَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ من الصَّلَاةِ وَيُخْفِيَانِ الذِّكْرَ إلَّا أَنْ يَكُونَ إمَامًا يَجِبُ أَنْ يُتَعَلَّمَ منه فَيَجْهَرَ حتى يَرَى أَنَّهُ قد تُعُلِّمَ منه ثُمَّ يُسِرُّ فإن اللَّهَ عز وجل يقول {وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِك وَلَا تُخَافِتْ بها} يعنى وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ الدُّعَاءَ وَلَا تَجْهَرْ تَرْفَعْ وَلَا تُخَافِتْ حتى لَا تُسْمِعَ نَفْسَك

Terjemahan: Aku berpendapat bahawa seseorang imam dan makmum hendaklah mereka berzikir kepada Allah di setiap kali selepas solat, dan hendaklah mereka merendahkan suara zikirnya, melainkan bagi seseorang imam yang mahu menunjuk ajar para makmumnya berkenaan zikir, maka dia boleh mengeraskan suara/bacaan zikirnya, sehingga apabila dia telah mengetahui bahawa para makmum telah tahu, maka hendaklah dia kembali merendahkan suara zikirnya, kerana Allah 'Azza wa Jalla berfirman (maksudnya):

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا

Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam solatmu dan janganlah pula merendahkannya. (Surah al-Israa', 17: 110)

Maksud kata الصلاة (ash-Sholah) wallahu Ta'ala a'lam adalah doa. لا تَجْهَرْ (Laa Tajhar): Janganlah engkau mengangkat suaramu, وَلا تُخَافِتْ (wa laa tukhofit): Janganlah engkau rendahkan sehingga engkau sendiri tidak mendengarnya. (Rujuk: Imam asy-Syafi'e, al-Umm, 1/127)

Zikir-zikir tersebut adalah sebagaimana berikut:

Zikir 1 -

أَسْتَغْفِرُ الله َ(ثلاث) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

“Aku minta ampun kepada Allah,” (dibaca tiga kali). Kemudian baca: “Ya Allah, Engkaulah pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.” (Hadis Riwayat Muslim, 3/254, no. 931)

Zikir 2 -

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas se-gala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang menghalang apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal sholehnya). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 3/348, no. 799 dan Muslim, 3/256, no. 933. at-Tirmidzi, 2/4, no. 275)

Zikir 3 –

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir membenci.” (Hadis Riwayat Muslim, 3/258, no. 935)

Zikir 4 –

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesiapa yang membaca kalimat berikut di setiap selesai solat,

سُبْحَانَ اللهِ(33 ×) وَالْحَمْدُ لِلَّهِ (33 ×)وَاللهُ أَكْبَرُ (33 ×) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Dan Allah Maha Besar. (Tiga puluh tiga kali). Tidak ada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

... maka akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih di laut.” (Hadis Riwayat Muslim, 3/262, no. 939. Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan bertasbih (Subhanallah) 10x, Tahmid (Alhamdulillah) 10x, dan Takbir (Allahu Akbar) 10x. Kedua-duanya sahih daripada Nabi dan boleh dipilih yang mana sahaja untuk dibaca)

Zikir 5 –

Membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas setiap kali selesai solat (fardhu):

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١) اللَّهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (٤) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (١) مَلِكِ النَّاسِ (٢) إِلَهِ النَّاسِ (٣) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (٤) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاس

(Hadis Riwayat Abu Dawud, 2/86, an-Nasai 3/68. Lihat pula Shohih Sunan at-Tirmidzi, 2/8. Kumpulan ketiga-tiga surah ini dinamakan al-mu’awidzat - lihat Fathul Baari Syarah Shohih al-Bukhari, 9/62)

Zikir 6 –

Membaca ayat Kursi (ayat ke 255 dari surah al-Baqarah) setiap kali selesai solat (fardhu):

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Sesiapa membacanya setiap selesai solat, tidak yang menghalanginya masuk Syurga selain mati.” (Hadis Riwayat an-Nasa’i dalam Amalul Yaum wal-Lailah No. 100 dan Ibnus Sunni no. 121, dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shohih al-Jami’, 5/329 dan Silsilah Hadis Shohih, 2/697 no. 972)

Zikir 7 –

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. 10× بعد صلاة المغرب والصبح

“Tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Dibaca sepuluh kali setiap sesudah solat Maghrib dan Subuh. (Hadis Riwayat at-Tirmidzi 11/377,no. 3396. Beliau berkata: Hadis ini hasan ghoreeb Sahih)

Doa-doa Setelah Salam Dari Solat:

Doa 1 –

Ummu Salamah berkata, “Bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam apabila selesai solat subuh beliau berdoa,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diterima.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah, 3/179, no. 915. Dinilai sahih oleh al-Albani)

Doa 2 –

Sa’ad B. Abu Waqqash berkata, “Di setiap kali selesai solat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari beberapa perkara (dengan doa berikut):

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ اَلْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ اَلدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ اَلْقَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat nyanyuk. Dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan siksa kubur.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 19/470, no. 5897)

Doa 3 –

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Aku wasiatkan kepada kamu wahai Mu’adz, janganlah engkau tinggalkan pada setiap kali selesai solat untuk membaca (berdoa),

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku dalam berzikir kepada-Mu (mengingati-Mu), mensyukuri nikmat-Mu, dan melakukan ibadah yang baik kepada-Mu.” (Hadis Riwayat Ahmad, 36/430, no. 22119. Al-Bukhari, Adabul Mufrad, 1/239, no. 690. Dinilai sahih oleh al-Albani dan Syu’aib al-Arnauth)

Doa 4 –

Al-Baraa’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bahawasanya apabila kami solat di belakang Rasulullah, kami lebih suka berada di saf sebelah kanannya kerana beliau akan menghadapkan wajahnya kepada kami. Dan aku mendengar beliau berdoa (dengan doa berikut),

رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ

“Wahai Tuhan-Ku, jauhkanlah aku dari azab-Mu pada hari di mana engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” (Hadis Riwayat Muslim, 4/20, no. 1159)

Doa 5 –

Abu Bakrah berkata, “Bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdoa di akhir solatnya (dengan doa berikut),

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالْفَقْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” (Hadis Riwayat Ahmad, 34/52, no. 20409. Sanadnya kuat di atas syarat Muslim sebagaimana kata Syu’aib al-Arnauth)








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar